sebagian pihak memang terjebak skeptis saat trailer film muncul. terutama yang merasa 'memiliki' unsur yang dikedepankan film ini : Punk. premis yang ditawarkan pun nampak culun : 4 orang anak punk melakukan perjalanan dari Malang ke Jakarta demi salah satunya yang akan menyatakan cinta.
saya sendiri pun ikut was was dengan premis ini. apalagi di trailernya ada bagian dimana mereka ngamen lagu dangdut. meski kemudian jiwa komedi gelap saya membuat saya tertawa, toh ini pemandangan lazim juga sebenarnya. akhirnya saya sadar, rasa gengsi bukan cuma ada untuk memiliki Blackberry, tapi juga untuk memiliki aliran gerakan.
untungnya saya memulai film ini dengan ekspektasi sederhana. ini adalah film komedi yang dibungkus dalam sebuah roadtrip. adapun soal Punk dan esensinya, saya mundurkan dulu.
sinopsisnya begini.
Arok (Vino Bastian), seorang punkers di kota Malang, akan bunuh diri dengan melompat dari gedung Departemen Agama. ketiga temannya, Yoji (Andhika Pratama), Mojo (Yogi Finanda) dan Almira (Aulia Sarah) berhasil mencegah dengan iming-iming akan mengantar Arok ke Jakarta menemui perempuan idaman Arok yang akan menikah 5 hari lagi.
maka, berangkatlah keempat punkers ini dengan modal seadanya ke Jakarta. caranya dengan menumpang apa saja. truk, bus, orang lewat, hingga mobil yang lagi di derek. karena ini roadtrip movie, maka tentu lebih baik jika mereka nyasar-nyasar dulu. haha.
bagian awal film ini membuat saya terkesan dengan nyasarnya mereka ke Bromo, lalu ke Blitar. banyak pemandangan bagus. sampai ketika mereka sampai di Semarang, eh.. dikasih banjir aja. lengkap dengan ibu2 manggul kasur. mana airnya butek. haha. tapi realistis, sih. disini saya mulai simpati dengan film ini.
tentu, komedi yang menjadi genre utama disajikan melalui berbagai kekonyolan sepanjang perjalanan. klasik, tapi tak pernah gagal. sebab namanya perjalanan, pasti selalu ada kisah serunya.
beberapa ironi juga muncul, dan mungkin ini membuat anak punk menutup mulutnya. bagaimana mereka diusir dari rumah makan, atau bahlkan dari sebuah klinik justru disaat teman mereka sedang sekarat.
dan puncaknya pada saat mereka sudah terlalu lapar. mencoba mengamen dengan lagu punk, hanya dapat beberapa ratus rupiah. namun ketika Yoji dan Almira menyanyikan lagu dangdut, mereka bisa membeli nasi bungkus dengan lauk mewah.
sing penting swa sembadha!
pada akhirnya benturan isu yang selama ini ada, dipotret jelas oleh film ini. punk kok suka dangdut. punk kok jadi model. sampai ketika Almira yang kecebur saat banjir dan harus memakai daster dan tampak culun, lantas diketawai beramai-ramai. "Ini darurat!", kata Almira membela diri. :D
pada akhirnya, perjalanan mereka itu sendiri yang membentuk mereka sebagai punkers yang anti-kemapanan. Yoji ternyata punya tante yang kaya di Jakarta. tetapi seperti percakapan mereka saat mengendarai mobil yang di derek.
"Gimana kita mau anti kemapanan, Al, kalo ngerasain kemapanan aja belum pernah o'..."
dan dijawab oleh Almira,
"Mangkane mocho! Maksud ne anti kemapanan iku, untuk aturan yang dibuat oleh masyarakat. Bukan duit. Teori ne, kita gak perlu aturan sing baku buat njalani hidup."
yep. film ini memang sarat dengan bahasa Jawa. namanya juga kon kon iki kera ngalam. jadi ne pilem'e make boso jowo.
eh, kon iku opo tho?
menariknya buat saya sih karena lebih sering nonton film yang bernuansa sunda. sampe gak nyadar kalo di film itu make bahasa sunda yang agak roaming (karena ngerti). begitu nonton film ini, saya bisa merasakan teman-teman yang roaming kalo nonton film dengan bahasa sunda yang kental.
coba nonton RomeJuliet. kalo gak ada subtitle, roaming banget tuh sundanya. :D
nah, ngomong2 soal sepakbola (RomeoJuliet film soal suporter sepakbola), ada adegan menarik ketika Almira datang bulan dan harus beli pembalut. saya aja baru nyadar kalo beli pembalut gak bisa diecer. saya jadi mikir, perempuan yg miskin gak bisa beli pembalut, trus pake apa ya?
kasusnya Almira, dia cuma punya syal Aremania. begitu tau Al pendukung Aremania, maka penjaga toko yang tadinya stel galak akhirnya malah ngasih sebungkus, dan nyanyi anthem Aremania bareng. haha. kalo sesama penganut agama masih bisa berantem, tapi kalo sesama pendukung klub dimanapun akan saling bantu! :D
kalo ada adegan cheesy, mungkin saat mereka di Blitar dan Mojo meresitasikan teks Proklamasi di makam bung Karno. sedikit sayang, karena karakter Mojo ini yang paling punk, dan paling jawa banget. pekerjaannya jaga kuburan. dan paling inget Tuhan juga. dan dia senang mengutip puisi-puisi Chairil Anwar, yang dengan arahan penulis skenario, momennya selalu tepat.
saya agak terharu pas dia sekarat dan dengan terbata-bata berkata, "Usahlah sedu sedan itu... aku ini.. binatang jalang..."
wah, lama-lama satu film saya ceritain nih. haha. sebab semua terwakili disini. komedi, roadtrip, hingga romantika. dan tanpa harus romantis menye-menye.
seperti waktu Yoji yang memang suka sama Almira duduk di dermaga menjauh dari teman2nya yg mengejek Yoji. dengan desir kecipak ombak, berkata sama Almira yg duduk disebelahnya :
"Hhhmmmhh... suasana kayak gini ini enak ne sama orang yang pas."
pause. melihat ke arah lain.
"Kayak saiki..."
dan ekspresi Aulia Sarah yg jadi Almira disitu keren banget. mengingatkan sama Dian Sastro jaman indie dulu. (LOL).
meski begitu, best momen Almira adalah saat mereka kedinginan di Bromo dan pantatnya kedinginan. ia berkata kepada Yoji yang memberikannya selembar kardus,
"Kon ngertiin bokongku, poll!!"
oh! me want to doggy-style her instantly. (LOL)
so, it's really not a bad movie. undurkan dulu idealismenya, maka Punk In Love akan menjadi film yang menarik. film ini memang ingin menjadi ringan dan tak serius, jd mengapa mesti ditanggapi serius?
oh, dan jangan langsung mematikan player saat ending credit.
ada satu scene yang agak menipu disitu, mengenai Mojo. dan saya ngakaaaaakk banget pas scene paling akhir itu. yes, saya mengakhiri film ini dengan tertawa lepas.
anzarra wrote on Oct 18, '09, edited on Oct 18, '09
baru nyadar, trailernya ternyata cuman nunjukin adegan2 slapstick yg kurang penting. mungkin krn masyarakat awam demennya yg begituan ya. huhu. gimana anak punk gak salah paham.
padahal ada banyak adegan keren lainnya, kayak Ario Bayu muncul dengan penuh wibawa saat Arok mau dikeroyok,
"Karena ini urusan kalian berdua, selesaikan dengan jantan. tangan kosong."
eh kemaren gue baru nonton romeo and juliet, dan gue sangat mengacungi jempol utk adegan tawuran yang sangat orisinil, thx an for this review, mungkin gue akan coba tonton!
akhirnya ada review yg bikin gua tergerak buat nonton film ini ... hehehehehehehe
haha, gawat. bener kata temen gue Soleh. tulisan gue bisa bikin org ngerasa sesuatu jd menarik. (LOL).
jangan berlebihan ya ekspektasinya. film ini film yg ringan kok. buat ketawa2. terutama pas adegan mules di bus itu, hahaha.. becandanya punk banget, anjing :D *jangan sambil makan nontonnya :p*
eh kemaren gue baru nonton romeo and juliet, dan gue sangat mengacungi jempol utk adegan tawuran yang sangat orisinil, thx an for this review, mungkin gue akan coba tonton!
sayang yah, adegan tawuran yg udah orisinil itu agak gimanaaaa gitu pas jagoannya mati gara2 ditusuk sama.... tukang rujak! (LOL).
kl disini adegan berantemnya film banget lah, tapi gak berlebihan sampe kelempar muter2 salto :D. kepala bocornya juga cukup meyakinkan. hmm. kayanya gak ada yg berpikir bakal ada adegan berantem seru pas liat trailernya pasti :p
mungkin tim survey ni film baru sempat dapat film2 lagunya MARJINAL, sebenarnya di film ini banyak band2 punk lokal yg terlihat spt CIVIL DISORDER (pas arok cs lg di krubutin preman) dll,...begundal memang band lokal asli malang.. :-)