"Bicara soal Do It Yourself, mungkin Stereofoam bisa dijadikan contoh."
begitu tulisan Soleh Solihun, sewaktu masih menjadi jurnalis di MTV Trax beberapa tahun silam -mengenai band saya. sebuah sudut yang tidak lazim. karena setelah dibaca lagi, topiknya hanya berkisar mengenai kemandirian band saya. tak ada soal musiknya sama sekali. haha.
dan bertahun kemudian, band saya tak jua berubah. "Benar-benar sendirian! Hanya mereka berempat." sebagaimana saya kutip lagi tulisan Soleh di bagian lain.
sebuah pikiran melintas ketika saya menandatangani sebuah perjanjian kerjasama beberapa hari lalu. nama saya ditulis sebagai manajer. memang, saya sempat bercanda bahwa manajer Stereofoam ada 4 orang. yaitu, semua personilnya. haha. tetapi mengamati nama saya diatas label manajer rasanya aneh sekali. harusnya itu nama orang lain selain kami berempat.
kami sebenarnya memiliki manajer, tetapi sejak resmi menjabat ia hanya sekali menemani di studio. setelah itu, kehidupannya nampak lebih rockstar daripada anak asuhnya. tak ada dari kami yang mampu berkontak lebih dari 3 hari. sudah sekian lama hendak dipecat, tetapi belum ada gantinya. jadi statusnya non-aktif.
akibatnya, kami berempat yang harus mengurus diri sendiri. terutama, saya dan Natzo, gitaris saya. sedangkan visi dan berbagai rencana selalu kami bicarakan lewat grup email kecil. email, sebab tiap personil tinggal di kota berbeda : Jakarta, Bogor, Bekasi, dan Bandung.
saya sedikit heran juga. sudah 9 tahun kami membentuk Stereofoam. sudah terpencar di berbagai kota. sudah sulit bertemu. sudah berkeluarga (kecuali saya). tidak punya manajer. tidak juga booming (LOL). tidak juga beres albumnya. tidak juga masuk tivi.
saya pikir jika ini band lain, mestinya sudah bubar sejak lama. :D
apalagi ketika saya ngobrol dengan seorang petinggi yang bekerjasama kemarin itu (ternyata dulu satu scene pas di Bandung), ia mengungkapkan kesulitan untuk bermain kembali bersama bandnya yang personilnya sudah terpencar-pencar.
alhamdulillah, kami masih utuh. tak pernah berganti personil. dan jika dipikir, kami sudah bersama sejak masih kuliah (kuliah pun bukan di kampus yang sama), sampai dua dari kami sudah jadi bapak. dan hanya di 3 tahun pertama kami punya manajer, seorang perempuan, yang berhenti karena harus berumahtangga.
ah, kangen Donieta. manajer kami yang dulu suka merangkap sebagai stylist dan membuat kami memakai kemeja berwarna terang. (LOL). dengan perannya yang paling besar ketika menenangkan kami saat harus main di depan massa penggemar Jamrud. Jamrud juga udah kemana, sekarang.
sekarang kami seperti anak-anak yang harus dewasa dan mengurus diri sendiri. kalo becandaan saya, "band yatim piatu". hal yang untungnya sudah kami lakukan ketika Nieta mundur. hal yang pelan-pelan membuat kami jadi individualis juga.
mungkin itu beratnya. ketika ada orang mau jadi manajer, mereka harus bertemu dengan konsep yang sudah jadi. dan sikap individualis tadi sering membuat kami mampu berinisiatif melakukan apa-apa sendiri, tanpa menunggu dibantu orang lain.
rekaman sendiri, produksi sendiri, nungguin duplikasi CD sendiri, distribusi sendiri, bikin label sendiri, bikin showcase sendiri, ngurus RBT sendiri, promo sendiri, bikin klip sendiri, pokonya individualis bangetlah.
padahal, ketika saya sudah punya pengalaman 3 tahun menjadi LO dan mencuri ilmu dari artis yang saya LO-in, ini adalah cara yang gak akan membawa kami jauh lebih maju. bagaimanapun, selalu ada tim yang solid dibalik orang-orang yang sukses dengan karir musiknya.
Mahadewi diback up 17 orang tiap kali manggung, dari manajer, sound engineer, administrasi lapangan, sampai roadie. The Changchuters memiliki hairdresser untuk masing-masing personil, dan seorang desainer fahion khusus untuk wardrobe mereka (temen mereka juga sih dulunya). dan sudah lazim bagi band profesional, check soundnya diwakilkan kepada roadie dan teknisi.
kami, manajer saja tak punya. mau tanda tangan kuitansi aja tunjuk-tunjukan.
bagaimana mau memikirkan musik saja? memang sih, sejauh ini kami mampu. tetapi tentu jadi tidak maksimal. ketika kemarin saya mendapat ide untuk promo single, rasanya jadi berat sekali. saya berkhayal seandainya saya punya tim, saya tidak perlu repot mengurus detail-detailnya.
untung, saya pengangguran. jadi masih sempat mengurusi programming web segala macam. dan Natzo juga sangat berdedikasi. selalu menyempatkan datang ke kamar sebelum kantor dan saat jam makan siang. kami selalu makan siang bersama dan membahas banyak rencana. setelah itu kami email personil lainnya. kami lagi senang dengan proyek Stereofoam TV kami. selalu ingin bikin video, jadinya. dasar narsis.
tetapi ini tak bisa selamanya. kemarin ini saya merasa bodoh sekali, tak membuat database fans. sebab banyak sekali yang diurus, jadi tak terpikir. padahal jika mereka ini didata dengan baik, mungkin tak perlu menyebar permintaan untuk jadi fans di page FB ke teman-teman dekat.
ingin memiliki tim, tapi tak tahu mau mulai darimana. mencari manajer saja sulit. jadi balik lagi semampu dan seingat kami saja. apa yang saya kuatirkan adalah jika kami bernasib seperti The Smith.
sepanjang karirnya, The Smith tak pernah punya manajer. hanya road manajer yang berganti-ganti jika mereka tur. akibatnya, selain mengurusi musik, vokalis dan gitarisnya : Morrissey dan Johnny Marr, juga mengurus manajemen.
dalam wawancara dengan KROQ Los Angeles, beberapa waktu setelah Johnny Marr meninggalkan band dan membuat The Smith bubar, vokalis Morrissey menjelaskan salah satu alasan vital mengapa Johnny keluar.
"John adalah tipikal pemusik sejati. Ia hanya ingin memikirkan musiknya saja. Karena kami 'manager-less', tambahan mengurus manajemen membuat John terbebani. Karena ia sudah tak mampu (membagi fokus), maka ia meninggalkan band dan berkonsentrasi kepada musiknya. Seharusnya, jika kami punya manager, ini tak perlu terjadi."
jika band sebesar The Smiths saja dapat mengalami hal seperti itu, apalagi kami. tentu saya berharap tidak ada dari kami yang akan seperti Johnny Marr. meskipun saya sedikit merasa begitu, belakangan ini. tetapi saya tahu bahwa saya individualis. dan pada akhirnya saya (dan anak-anak) akan mengerjakannya sendiri.

"Makanya, kami masih tetep semangat. Masih belum merasa mentok, sih."
begitu ucap saya kepada Soleh Solihun, beberapa tahun silam yang kemudian ia kutip untuk tulisan yang sama.
dan bertahun-tahun ke depan lagi kemudian, yang akan berlangsung lama sekali, saya berharap kami takkan pernah merasa mentok.
(An. 10.10.09)